Cukai rokok

Cukai Rokok Naik, Negara Mau Industri Kretek Mati?

Persoalan cukai rokok jadi satu hal yang tak henti-hentinya dibahas. Kali ini sektor cukai benar-benar diatur penuh oleh pemerintah untuk menjadi urusan fiskal yang baik ke depannya. Seperti yang tertuang pada aturan (PMK) No 77/PMK. 01/2020. Itu artinya reformasi kebijakan cukai rokok akan secara total dirombak dari mulai penyederhanaan tarif, harga transaksi pasar hingga HJE (Harga Jual Eceran).

Menurut pihak Menteri Keuangan yang bertugas pada Badan Kebijakan Fiskal (BKF) tujuan diadakannya reformasi supaya memberi kemudahan dalam administrasi, mengurangi rentang harga, moral hazard serta mampu meminimalisir laju peredaran produk rokok ilegal.

Agaknya, rencana seperti ini sudah cukup memberikan gambaran kepada kita selaku pelaku konsumen dan produsen terkait hal yang ingin diterapkan sebagai cara untuk membawa hasil baik dalam pemasukan kas negara. Tetapi perihal cukai kadang selalu sulit untuk dikupas tuntas bersama, lagi-lagi titik permasalahan terjadi di pengaturan yang sepihak, memberatkan produsen serta penerimaan yang masih belum dialokasikan secara terarah.

Sebelumnya aturan cukai sendiri telah termuat pada kebijakan PMK 146/2017 tentang tarif Cukai Hasil Tembakau. Namun nantinya struktur tariff cukai bakal lebih disederhanakan hanya menjadi 5 layer, dari yang sebelumnya adalah 12 layer. Hal itu dituju sebagai rangka optimalisasi penerimaan cukai hasil tembakau, meingkatkan kepatuhan pengusaha pabrik serta penyederhanaan system administrasi di bidang cukai.

Mau dibilang itu rencana strategi dalam bentuk simplifikasi kebijakan, tetapi jangan melulu malah nanti yang ujung-ujungnya yang diberatkan adalah produsen rokok. Konsumen sudah cukup dibebankan untuk merogoh kantong dalam-dalam, masa pihak pabrikan rokok juga mesti dipaksa untuk melakukan hal yang serupa juga.

Semoga skema nanti yang diterapkan ini betul-betul membawa dampak hasil yang positif dan juga setidaknya bisa kita nilai seberapa baik refromasi kebijakan itu berhasil. Sebab, baik atau buruknya kebijakan yang diterapkan itu kitalah yang nanti merasakan. Rantai bawah produsen hingga ke tangan konsumen rokok. Sikapi dengan bijak, karena kesejahteraan jauh lebih penting, berdiri di atas sebuah regulasi.

Komentar Anda
Category : Artikel
Tags :