Rokok Ilegal

Dalill dan Tren Rokok Ilegal di Indonesia

Pada pertengahan tahun 2020, tepatnya bulan Juni, kabar cukup menyenangkan datang dari Bea Cukai Juanda. Atas gerak cepatnya, mereka berhasil meringkus sindikat pemasok rokok ilegal.

Saat itu, pelaku berhasil ditangkap sebelum barang selundupannya didistribusikan ke Madura. Jumlah batang rokok yang hendak diselundupkan sebanyak 540.320. Tanpa pita cukai bahkan sengaja diberi pita cukai palsu.

Berita penangkapan terkait penyebaran rokok ilegal diklaim oleh Bea Cukai Juanda berlangsung berulang kali. Tercatat pada tahun 2019 saja, terdapat 55 penangkapan. Meskipun telah terjadi sejumlah penangkapan, tampaknya tidak membuat pemasok rokok non cukai jera. Entah apa yang diinginkan pembeli rokok ilegal, yang jelas kehadirannya merusak pasaran rokok legal.

Rokok ilegal yang biasa didistribusikan antara lain Gudang Baru (plesetan dari Gudang Garam), Tuton SPR (kemasannya mirip sekali dengan Djarum Super), dan Dalill (yang ini mirip sekali dengan Dunhill—bahkan pengucapannya pun!)

Merek terakhir tampaknya cukup sering menghiasi di Bea Cukai. Rokok Dalill, baik dari kemasan, warna, bahkan logonya sangat mirip. Bahkan, sampai ada yang pernah berasumsi bahwa rokok Dalill adalah versi murah Dunhill.

Kekhawatiran akan rokok non cukai yang tersebar lebih banyak bisa saja terjadi. Terlebih kenaikan cukai yang menyentuh angka 35% membuat sebagian perokok mencoba beralih.

Baca juga: Berantas Rokok Ilegal Dengan Pendekatan Humanis

Yang penting merokok, asapnya cukupan. Enak atau tidak enak itu hanya masalah adaptasi. Tapi, justru inilah yang berbahaya. Jika peredaran semakin meluas, industri rokok akan mati.

Maka petani tembakau akan kesulitan pula mendapat keuntungan. Untuk mengatasi hal tersebut, salah satu caranya adalah memberi edukasi kepada masyarakat bahwa rokok non cukai tidak layak dikonsumsi.

Tapi, memang sesuatu yang ilegal terlebih murah menarik perhatian masyarakat. Apa pun bentuknya. Yang penting bisa dikonsumsi dan tidak menguras dompet terlalu banyak.

Sayangnya, orang-orang yang berpikiran seperti itu tidak berpikir dampak yang panjang. Kalo Roki disuruh memilih mana rokok legal atau ilegal, tentu saja pilih rokok legal.

Selain karena membantu pendapatan petani tembakau, juga membantu pemulihan ekonomi negara. Sepertinya Roki tidak akan capek memberitahu kepada mereka-pengonsumsi rokok ilegal bahwa yang dilakukannya menyengsarakan negara.

Berapa coba tuh cukai yang hilang? Belum lagi pendapatan industri rokok. Duh kok ya masih tega beli rokok tak resmi? Udah gitu Dalill lagi! Hih!

Budayakan jadi perokok yang santun dengan membeli rokok legal, ya, teman-teman Roki.

Komentar Anda