petani tembakau

Dampak Corona Menjamah Perkebunan Tembakau

Ketika tarif cukai rokok naik signifikan akhir tahun lalu, prediksi bahwa permintaan tembakau dari pabrikan terhadap petani akan berkurang. Dan sekarang, tidak hanya kenaikan tarif cukai, pandemi corona ikut mempengaruhi permintaan pabrikan akan kebutuhan tembakau. Persoalan bagi petani tembakau sudah hadir di depan mata.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, di kisaran bulan Maret dan April, jelang dimulainya musim tanam tembakau, pabrikan rokok mengeluarkan surat berisi besaran permintaan mereka terhadap tembakau di musim tersebut. Nantinya, pembelian tembakau oleh pabrikan akan sesuai atau setidaknya sedikit lebih dari besaran permintaan di awal musim ini. Boleh dibilang hal ini adalah patokan besaran pembelian oleh pabrikan.

Nah, pada tahun ini, seperti sudah dikatakan sebelumnya, jumlah permintaan dari pabrikan diperkirakan akan berkurang, dan hal itu benar-benar terjadi. Di Temanggung, setidaknya, dua pabrikan besar yang menjadi pembeli utama di sana telah menyampaikan pengurangan volume pembelian tembakau thaun ini. Artinya, bukan hanya jumlah pembelian yang bekurang, tetapi pemasukan buat petani pun demikian.

Pengurangan kuota pembelian di Temanggung bisa mencapai 30% dari kuota yang biasa diberikan. PT Djarum telah menegaskan mereka akan mengurangi 20% pembelian musim ini, sementara Gudang Garam masih menghitung besaran. Yang pasti, kemungkin bukan hanya dua pabrikan ini yang mengurangi kuota, namun juga pabrikan lainnya.

Kita tentu tidak bisa menyalahkan pabrikan karena melakukan hal tersebut. Ingat, kuota pembelian bergantung pada produksi yang akan mereka lakukan. Itu saja baru satu hal, belum hal lainnya seperti krisis ekonomi yang terjadi saat ini. Apalagi pandemi ini belum ketahuan kapan akan selesai.

Dalam konteks ini, pengurangan permintaan terjadi tentu karena akan berkurangnya volume produksi. Kenapa begitu, pertama tentu saja karena kenaikan tarif cukai tembakau yang tinggi berpengaruh pada permintaan. Kemudian, yang kedua, ya sudah pasti karena Corona. Bagaimana pun, Corona membuat pembelian di semua sektor berkurang.

Karenanya, petani harus berhati-hati dalam hal ini. Jangan sampai para petani bertingkah pongah lalu menanam tembakau seperti biasa. Dulu, pernah ada satu masa pabrikan mengurangi kuota pembelian tapi petani tetap menanam dalam jumlah yang besar. Hasilnya, ada cukup banyak hasil panen yang tidak terserap pasar. Kali ini, jangan sampai hal tersebut terulang. Apalagi situasi dunia sedang memburuk.

Komentar Anda
Category : Artikel
Tags :