https://www.flickr.com/photos/130075348@N08/25437428328/in/photolist-EKPtdu-CQNB49-DhRNir-Db2vAe-qExtMp-rd2UTc-DaAKmH-ucRL7m-rZP298-2bPJz1F-CQNmdN-rEhUTk-rZLqJw-tLvX1w-rFtEFr-2iSrriU-2iSrrF7-JdaL4R-2iSrrsb-ZUpqj9-E1vTuC-2iSvQyc-DUAq5D-2iSvQPC-RcWprC-2iSugpH-26UDZii-aBfTum-K4Jrho-vc39fe-DACJVh-rjJZpq-qNKZQu-pVz5MM-sced2Z-u5iuLZ-sRCBq4-sbUWqA-D67Wr1-qExMKD-NUsWNc-sFWTcv-ujAzTg-stnLRy-uSWnsg-u47SG2-v1ntqE-rEdZ87-rMW7Ds-D6Khi4

Karena Diskon Rokok Menguntungkan Negara, Pegiat Anti Rokok Harusnya Malu

Wacana soal diskon rokok kembali menggema. Namun kali ini bukan berita yang membuat para perokok mendapatkan angin segar dari harga jualnya yang mendapat potongan harga. Melainkan soal pandangan pegiat anti rokok yang menilai bahwa diskon rokok hanya bakal merugikan negara.

Begini, perihal diskon telah diatur dalam ketentuan Peraturan Dirjen Bea Cukai No 37/2017 tentang Tata Cara Penetapan tarif Cukai Hasil Tembakau, konsumen masih diperbolehkan selama dalam koridor kewajaran, membeli rokok dengan potongan harga hingga 15%. Artinya secara regulasi, aturan tentang diskon itu ada, dan sah-sah saja apabila pabrikan ingin membanderol diskon.

Kemudian ada di sisi lain, kenapa diskon rokok tidak terpengaruh apapun pada pemasukan negara? Begini, analoginya, bila penjualan laris di pasaran karena adanya diskon, malah justru bagus, penjualan banyak, negara pun mendapat pemasukan yang juga lebih banyak.

Lalu berapapun harga rokok dijual pada konsumen, pungutan cukai, pajak rokok, serta PPN tetap mengikuti harga jual eceran yang tertera pada pita cukai. Itu artinya tidak ada pengaruh buruk sama sekali terhadap pemasukan negara.

Seharusnya cara berpikir pegiat anti rokok itu kalau mau bilang merugi, yang seharusnya pertama dirugikan adalah pabrikan rokok. Secara, harga jual rokok berada di bawah rata-hata harga jual. Asal perlu tau saja gunanya ada diskon tujuannya adalah untuk menutupi dan menambal defisit negara di tengah pandemi. Bukankah langkah ini yang justru terbilang strategis? Agar produk tetap diserap pasaran, pemasukan untuk PPh badan, juga pungutan cukai serta PPN.

Lalu wacana bodoh yang dihembuskan oleh para pegiat anti rokok ini juga terlihat kontraproduktif. Sebab bertentangan dengan semangat menghidupkan kembali perekonomian, seperti upaya yang diinginkan oleh Presiden Joko Widodo. Karena bagaimanapun pasar penjualan tetap butuh adanya stimulus. Maka dari itu diciptakanlah diskon rokok.

Kalau wacana ini terus digulirkan setiap ada diskon rokok, kita sebagai kaum perokok malah nantinya merasa tertekan. Padahal selalu bersumbangsih terhadap pemasukan negara lewat konsumsi rokok.

Sudah waktunya kita suarakan pembelaan, karena sebaik-baiknya cara adalah meluruskan cara pandang yang sesat ini. Bukan mereka para pegiat anti rokok yang perlu dibenahkan nalarnya, tetapi kita yang sadar akan arti pentingnya diskon rokok serta rokok yang telah memberi sumbangsih lebih dari apapun.

Komentar Anda