harga rokok

Ide Aneh Menteri Sosial tentang Harga Rokok Rp100 Ribu

Ide dari Menteri Sosial, Juliari Batubara tentang kenaikan harga rokok menjadi 100 ribu terkesan menggelikan. Pemerintah, melalui Juliari, menegaskan harga tersebut naik agar konsumsi rokok pada anak-anak bisa berkurang.

Logika yang dibangun aneh dan seperti dipaksakan. Hal itu bahkan diakui oleh Soeseno, Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI). Ia menyatakan bahwa tidak bisa serta merta menyelamatkan anak namun di sisi lain juga membunuh anak.

Ya, dikatakan begitu karena betapa banyak anak yang bisa meraih pendidikan dari panen tembakau. Orang tua mereka yang menjadi petani berusaha keras agar anak-anak mereka tetap bisa sekolah.

Pernyataan Juliari memang terkesan kontroversial. Pemicunya bisa jadi ekonomi yang mandek akibat pandemi. Dan industri hasil tembakau adalah sasaran yang baik untuk meningkatkan perekonomian.

Juliari pantas diingatkan. Sebab, mengacu pada data bulan Juni 2020, total penerimaan cukai sebanyak Rp75,38 triliun. Dan IHT menyumbang pemasukan negara sebesar 96 persen atau setara Rp72,91 triliun. Menakjubkan, bukan?

Menggenjot perekonomian namun di sisi lain juga perlahan mematikannya. Mengapa demikian? Jika harga rokok naik, konsumsi jelas berkurang. Maka, otomatis produksi pun akan menurun. Jika sudah menurun, banyak pekerja yang menganggur. Akibatnya, anak-anak dari pekerja tak bisa melanjutkan sekolah.

Padahal, jumlah buruh yang berada di pabrikan Industri Hasil Tembakau (IHT) sebanyak 4,28 juta. Itu baru yang di pabriknya, belum lagi di perkebunan atau sektor lainnya. Hidup sulit, jalan membangun perekonomian kian rumit.

Hal-hal seperti ini yang belum bisa dipikirkan pemerintah. Entah karena memang tidak tahu atau sudah tahu tapi malah membiarkan. Jika yang kedua, ini sama saja dengan pembunuhan masal namun secara perlahan.

Pemerintah cukup paham potensi dari Industri Hasil Tembakau. Setelah kenaikan cukai yang mencekik para petani tembakau, simplifikasi cukai sebagai dalih mengembalikan ekonomi, kini kenaikan harga rokok sebagai alasan untuk menghindarkan anak-anak dari rokok.

Entah alasan apa lagi yang sedang disiapkan oleh pemerintah seandainya gagal. Sebab, yang dipikirkan hanyalah uang, uang, dan uang. Seperti kenaikan cukai yang menghasilkan penerimaan cukai naik dua kali lipat.

Padahal sejak hal tersebut diterapkan pada tahun 2019, ancaman tutupnya perusahaan rokok yang berskala kecil terbuka lebar. Bahkan, yang nyata adalah serapan tembakau dari petani ke pabrik ikut menurun. Maka, bisa dibayangkan jika harga rokok ikut-ikutan naik?

Industri Hasil Tembakau akan mati dan perekonomian ambruk. Pemerintah perlu mengkaji ulang kebijakan harga rokok Rp100 ribu jika tidak ingin melihat pengangguran masal di NKRI.

Komentar Anda
Category : Artikel
Tags :