Harga rokok

Iklan Rokok Dilarang di Internet? Ide Tak Masuk Akal

Jika iklan rokok dilarang di internet, semestinya seluruh iklan yang memakai produk rokok, entah minuman atau makanan, juga dilarang beredar di internet. Masalahnya, apa urgensi dari melarang iklan seperti itu? Apakah karena khawatir terhadap kemaslahatan bangsa? Atau memang hanya itu yang dapat diurus oleh Muhajir Effendy?

Barangkali itu yang dilupakan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhajir Effendy saat berbincang tentang rokok. Baginya, apa pun yang berkaitan tentang rokok perlu dihilangkan. Menurutnya, iklan tersebut tidak sekadar dibatasi melainkan dilarang. Bahkan, pelarangannya pun tidak main-main. Iklan rokok dilarang beredar di internet!

Baca Juga: Benarkah Bahaya Rokok Mengancam Kita Semua?

Iklan Produk Rokok Dilarang di Internet 

Agaknya aneh untuk melarang iklan rokok di internet. Atas dasar apa, ya? Jika alasannya agar anak tidak terpapar rokok, seharusnya hal yang sama diberlakukan pada game. Sebab, sama seperti rokok, game membuat orang berpotensi menjadi candu. 

Sayangnya, alasan tersebut dikemukakan hanya demi mengelola kebijakan belajar mengajar secara daring. Jika iklan tersebut ditampilkan secara kontinyu, siswa akan merokok. 

Sepengetahuan Roki, tidak pernah ada iklan tersebut di manapun yang mempersuasi orang, dalam bentuk wujud perokok, untuk merokok. Sebab, selama ini industri rokok telah mematuhi peraturan yang tertuang dalam PP 109/2012 Pasal 27 ayat [c] dan [d]. Aturan tersebut adalah iklan rokok tidak memperagakan wujud perokok dan tidak bertentangan dengan kesusilaan dan nilai agama. 

Maka, sebenarnya sudah jelas bahwa iklan tersebut sejatinya boleh beredar di internet. Meskipun Menko PMK sangat berhasrat melarang iklan tersebut secara total, dalam kenyataannya, strategi pengendalian tembakau ada yang memuat peningkatan cukai hasil tembakau. 

Ini artinya, tembakau, dalam hal ini rokok, masih sangat dibutuhkan untuk penerimaan negara. Sebaiknya Menko PMK lebih fokus untuk mengurus hal yang lain. Misal, bagaimana membangun moral manusia agar tidak menyunat dana bantuan sosial. Itu lebih urgen demi kemaslahatan bangsa. Juga, membangun manusia yang lebih bermanfaat, khususnya pengelolaan dana. 

Baca Juga: Bahaya Rokok vs Bahaya Produk Makanan

Komentar Anda