Industri Hasil Tembakau di Ambang Titik Hancur

Pandemi Covid-19 menghajar  Industri Hasil Tembakau (IHT). Selama setahun lebih, pihak pelaku Industri Hasil Tembakau Indonesia meminta pemerintah mengambil regulasi untuk menyelamatkan sektor bisnis tembakau.

Sulami Bahar selaku ketua Gapero (Gabungan Perusahaan Rokok menyatakan bahwa pihaknya merasa terbebani karena pandemi ini. Harapan Bahar ini adalah representasi pelaku bisnis tembakau secara rata-rata. Pihaknya meminta pemerintah agar menunda kenaikan tarif cukai tembakau 2021 yang menurutnya membebani. Ditambah lagi dengan penurunan keseluruhan (agregat) di tahun 2020 lalu, dimana produksi IHT mengalami kontraksi produksi mencapai -9,7 persen.

Angka produksi tersebut masih mengalami penurunan hingga Mei 2021 dengan penurunan sebesar -4,3%. Penurunan tersebut karena pandemi memang telah menurunkan daya beli. Prediksi Sulami, penurunan produksi tahun ini lebih tajam dari tahun lalu, karena mitigasi pandemi belum menunjukkan tanda-tanda ke arah yang jelas.

Baca Juga: Menjadi Perokok Santun

Berdasarkan data terakhir, beberapa daerah dan provinsi di Jawa telah termasuk zona merah dan hitam. Terakhir adalah Kudus bulan lalu, terpaksa harus mengambil langkah lockdown untuk menekan angka persebaran virus. Peristiwa tersebut juga memukul industri skala besar hingga rumahan.

Penutupan pabrik tersebut berdampak hulu hingga hilir. Produsen mengurangi produksi karena penurunan permintaan konsumen, petani kekurangan serapan permintaan dari sektor hilir.

Tarif Cukai Semakin Naik

Simplifikasi tarif cukai akan paling dirasakan oleh produsen tembakau golongan II dan III, atau yang produksinya belum mencapai tiga miliar batang. Jumlah tersebut masih bisa mencapai kenaikan apabila kenaikan tarif cukai jadi dilaksanakan melalui PP. 109 /2012. Sangar dimungkinkan sekali.

Dapat dipastikan yang akan berguguran duluan golongan II dan III, dan jika demikian, nanti rokok ilegal makin meningkat. Peraturan-peraturan yang menyebabkan industri ini makin terpuruk, misalnya ya, ancaman aturan simplifikasi dan kenaikan cukai yang eksesif. Ini akan terus mempengaruhi serapan bahan baku dari petani, mengganggu tenaga kerja, mengganggu pendapatan dari para pengecer atau penjual rokok, dan pendapatan negara dalam hal cukai dan perpajakan.

Baca Juga: Kenaikan Tinggi Tarif Cukai Bukti Munafiknya Sikap Pemerintah

Komentar Anda