Ini Perusahaan Rokok di Jawa Tengah

Berdasarkan data dari Dirjen Bea Cukai, jumlah perusahaan rokok semakin menurun. Pada tahun 2011, jumlah perusahaan rokok mencapai 1.540. Lalu, pada tahun 2017, jumlah perusahaan rokok hanya 487.

Jika mengacu data dari Kemenperin, pada tahun 2020 jumlah perusahaan rokok bahkan tersisa 374. Tentu saja faktornya berbagai macam. Salah satunya adalah kenaikan cukai yang semakin mencekik mereka. Sehingga, mau tidak mau membuat perusahaan rokok gulung tikar.

Akan tetapi, masih ada beberapa perusahaan yang hingga kini mampu mempertahankan eksistensinya. Tersebar di beberapa daerah, salah satunya berada di Jawa Tengah.

Lalu, apa saja perusahaan rokok yang ada di Jawa Tengah?

  1. Djarum

Sejak peristiwa besar yaitu kebakaran pada tahun 1963, Budi dan Bambang Hartono mencoba bangkit kembali. Dengan perusahaan yang dinahkodai bapaknya, Oei Wie Gwan, Djarum kembali bersinar.

Pada mulanya, Djarum hanya memproduksi Sigaret Kretek Tangan (SKT). Namun, memasuki tahun 1970, Djarum masuk ke pasar Sigaret Kretek Mesin (SKM). Periode tersebut menancapkan Djarum sebagai perusahaan rokok terbesar di Indonesia.

Produknya mulai dari Djarum Super, Djarum Coklat hingga LA Lights telah memiliki konsumen yang fanatik.

  1. Nojorono

Pada tahun 1932, Tjoa Kang Hay bersama empat kawannya yaitu Tan Tjiep Siang, Tan Kong Ping, Ko Djie Siong, dan Tan Djing Dhay sepakat untuk mendirikan Nojorono. Perusahaan ini cukup menarik perhatian karena berdiri secara kolektif.

Olahan produk Nojorono adalah Minak Djinggo dan Class Mild. Jika Minak Djinggo terkenal karena daya tahan terhadap air, Class Mild terkenal karena produk SKM yang populer di Indonesia pada tahun 2000an.

Selain kedua produk tersebut, Nojorono juga memiliki Aroma yang menyasar kelas bawah. Meskipun pamornya di bawah Djarum, Nojorono telah memiliki konsumen loyal.

Masih banyak lagi perusahaan yang berada di Jawa Tengah. Jika mengacu data Kemenperin, ada 33% yang tersebar di Jawa Tengah. Jika dinominalkan, angka tersebut berjumlah 137 perusahaan.

Hal ini menunjukkan bahwa denyut nadi perekonomian di Jawa Tengah, hampir sebagian besar bergantung pada rokok terutama kretek. Maka, Roki berharap agar banyak perusahaan yang menggantungkan produksi dari tembakau tetap lancar dan terus beroperasi.

 

 

Komentar Anda
Category : Artikel
Tags :