Inikah Daftar Penyakit Akibat Rokok?

Kemasan rokok menjadi lebih mengerikan ketika PP 109/2012 direvisi dan mengatur tentang tampilan penyakit mematikan. Seperti kanker, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin. Deretan visualisasi penyakit itu terpampang dengan jelas seolah-olah takdir perokok memang mati dengan cara yang mengenaskan sebagaimana tertera di bungkus tersebut. Apakah 100% benar? Belum pasti juga.

Apakah daftar penyakit di atas disebabkan oleh rokok? Jika ada orang sakit jantung, apakah produk itu bertanggung jawab secara penuh terhadap meningkatnya kasus penyakit jantung? Kita tentu harus adil dalam menempatkan satu hal karena banyak variabel yang tidak tunggal. Agen Gerakan antirokok dengan segala sumber daya yang dimiliki membangun opini bahwa asal-usul semua penyakit jahat adalah rokok. Titik.

Opini Antirokok Tidak Masuk Akal

Keterbukaan informasi membuat (terkadang) verifikasi kebenaran sulit. Perkembangan penyakit juga seturut dengan perkembangan opini antirokok. Jika Anda mengetikkan kata kunci “rokok dan penyakit”, akan muncul opini gothak gathik mathuk bahwa simptom-simptom seperti jerawat, rambut rontok, panu, kadas, kurap dan lain sebagainya dihubung-hubungkan dengan daftar penyakit yang tidak disangka-sangka disebabkan olehnya.

Bahkan, kemiskinan seseorang ditengarai karena rokok. Pernahkah Anda mendapati artikel yang membuat perhitungan konsumsi produk itu dalam sehari, diakumulasikan dalam setahun, lalu hasilnya dibandingkan dengan nominal sekian puluh juta yang setara dengan harga tanah? Penyakit miskin, menurut mereka, akibat konsumsi produk itu.

Memang demikian, suara-suara sumbang tentang rokok sudah direproduksi sedemikian masifnya. Sehingga, membuat kita pada akhirnya menyalahkan produk itu sebagai segala sumber penyakit biologis dan penyakit sosial (kemiskinan, red). 

Baca Juga: Kenaikan Tinggi Tarif Cukai Bukti Munafiknya Sikap Pemerintah 

Setiap penyakit memang memiliki asal-usul, tetapi apakah semuanya tepat jika ditimpakan kepada rokok? Gampangnya, jika kita merasa pusing karena kopi, apakah kopinya yang disalahkan? Bukan, to? Kalau tahu demikian, harusnya kita membatasi kopi dengan kemampuan lambung, yang tentu ukurannya berbeda tiap orang.

Rokok pun demikian, tak sepantasnya setiap penyakit seperti kebelet ngising disebabkan oleh produk itu ataupun sarapan pagi yang mendorong kontraksi otot perut. Padahal, bagi perokok, itu adalah saat-saat paling nikmat untuk menghisap sebatang rokok kretek. 

Kalau memang demikian, kita tunggu saja, daftar penyakit apalagi yang akan dimasukkan dalam penyakit yang disebabkan oleh produk yang sangat menguntungkan negara.

Baca Juga: Industri Hasil Tembakau Hanya Dimanfaatkan?

Komentar Anda
Category : Artikel