pabrik rokok

Karena Kenaikan Cukai dan Pandemi, Pabrik Rokok Merugi

Di masa pandemi ini tantangan semakin berat, termasuk kebutuhan mengonsumsi rokok agar tetap bisa terus menyokong pendapatan negara. Sebab, tidak lain pihak yang sepenuhnya berkontribusi atas hal itu adalah pabrik rokok dan konsumen. Meski terlihat dalam kurun waktu belakangan ini daya beli masyarakat tengah lesu terhadap rokok, namun tidak ada istilah untuk tidak produksi.

Memang, jika berbicara dampak tentunya ada—dari daya beli yang kurang serta kenaikan cukai yang cukup tinggi akan menyeret pada pendapatan dan laba bersih. Seperti di salah satu pabrikan rokok yang sudah lebih dulu mengurangi jumlah karyawannya yang semula 32.491 orang, saat ini menjadi 32.308 atau berkurang 183 orang.

Namun pengurangan jumlah karyawannya itu tidak dikarenakan PHK (pemutusan hubungan kerja), dirumahkan atau terkena dampak status lain, seperti potongan gaji 50%. Melainkan mengenai pengurangan tersebut sudah menjadi tanggung jawab dan kesepakatan bersama dari pabrikan rokok.

Untuk urusan penjualan pun terlihat menunjukan penurunan yang lebih tajam dikarenakan daya beli masyarakat makin tertekan yang tentunya berdampak terhadap permintaan rokok. Diketahui bahwa laba bersih yang didapat dari salah satu pabrikan rokok tersebut tahun lalu mampu menembus 10,8 triliun atau tumbuh 40% dibandingkan dengan periode tahun 2018 yakin sebsar 7,79 triliun.

Persoalan ini tentu bukan permasalahan dari satu pihak saja, mengingat bahwa selain daripada terdampak pandemi yang mengakar hingga ke pendapatan. Sektor industri rokok dan tembakau sedang dihajar habis-habisan untuk mengakali pendapatan.

Sebetulnya cara yang telah coba dilakukan sudah ada, seperti pemenuhan persediaan barang jadi/barang siap jual guna mengantisipasi permintaan di pasar selama pelaksanaan cuti bersama berlangsung.

Lalu juga pensiagaan agar para karyawan tidak terdampak telah dilakukan seperti memberlakukan WFH (work from home) dengan didukung prasarana yang dibutuhkan agar karyawan tetap dapat melakukan pekerjaannya dengan maksimal. Serta mengurangi kunjungan ke pelanggan sebagai protokol social distancing.

Ya, ujung-ujungnya kita tidak bisa menyalahkan siapapun. Atas adanya wabah ini kita mesti buka pandangan dan sadar bersama, bahwa sebaik-baiknya orang adalah yang mau membantu nasib saudaranya yang lain. Dengan membeli hasil produksi pabrikan atau rumah industri rokok.

Komentar Anda
Category : Artikel
Tags :