Kenaikan Cukai Rokok Tidak Menguntungkan Negara

Dalam waktu dekat, pemerintah akan mengumumkan kenaikan cukai rokok pada tahun 2021. Hal ini disebabkan telah selesainya pembahasan yang telah dilakukan pemerintah. Drafnya telah diberikan kepada Presiden Joko Widodo untuk segera diteken. 

Petani tembakau dan pengusaha rokok harap-harap cemas. Sebab, mereka tidak pernah membayangkan apabila cukai rokok benar-benar naik. Apalagi saat pandemi seperti ini, serapan tembakau tidak terlalu baik dan konsumsi rokok juga menurun. 

Melihat cukai rokok yang telah naik sebesar 23 persen dan harga jual yang naik 35 persen pada tahun ini membuat pengusaha rokok pesimistis. Kenaikan pada tahun depan jelas akan memberatkan sektor industri hasil tembakau (IHT).

Ini belum ditambah pula dengan isu simplifikasi cukai. Menurut Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 77 Tahun 2020, struktur tarif cukai yang tadinya 10 layer akan menjadi 3-5 layer pada tahun 2024. Tentu saja, hal tersebut membuat pabrik rokok kalangan menengah dan terutama bawah akan terdesak. 

Sektor IHT Terdesak

Pemerintah seharusnya menaruh perhatian yang lebih kepada sektor industri hasil tembakau (IHT). Cukai rokok yang naik jelas akan memberatkan di segala lini. Potensi kekurangan pemasukan negara jelas terlihat. Padahal diketahui bahwa penerimaan negara dari cukai ini sebesar 97 persen. Selain itu, hampir 11 persen APBN berasal dari rokok. 

Jika mengacu pada fakta di atas, apakah pemerintah benar-benar serius untuk menaikkan cukai rokok? Roki melihat bahwa pandemi dijadikan alasan sekunder untuk menaikkan hal tersebut. Ekonomi lesu menjadi alasan utama. 

Baca juga: Cukai Rokok Naik, Negara Mau Industri Kretek Mati?

Roki mencoba menebak jalan pikir pemerintah. Jadi, melihat ekonomi sedang lesu, pemerintah berupaya menggenjot pemasukan negara melalui cukai rokok. Pemerintah mengira konsumsi rokok yang cukup tinggi saat pandemi menjadi faktor pendukung. Padahal jika dilihat secara saksama, masyarakat memang masih mengonsumsi rokok. Namun, beralih ke tingwe (linting dewe). 

Ini justru seharusnya menjadi persoalan bagi negara. Pada akhirnya, konsumsi rokok pun menurun. Jika menurun, berdampak pada serapan tembakau, dan juga cengkih. Maka, rokok dengan Sigaret Kretek Tangan (SKT), volume produksinya pun menurun drastis. Ini juga menjadi persoalan lain. 

Oleh karena itu, pemerintah harus benar-benar memperhatikan sektor IHT. Jika tidak, akan berbahaya bagi pemasukan negara. 

Komentar Anda
Category : Kabar