Kenaikan Cukai Tak Menambah Pendapatan Negara

Kenaikan cukai rokok menjadi momok di masyarakat, khususnya bagi yang bertahun-tahun bergantung pada industri ini. Momok yang dimaksud adalah jumlah pengangguran yang otomatis meningkat. Mengapa bisa terjadi?

Beberapa perusahaan rokok masih mengandalkan Sigaret Kretek Tangan (SKT) sebagai jalur produksi mereka. Jika kenaikan cukai rokok terjadi, dan harga jual ecer meningkat, maka bisa dipastikan terjadi efisiensi tenaga kerja.

Hal tersebut mengacu pada data sepuluh tahun terakhir yang telah dibuat oleh Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP RTMM-SPSI).

Dalam data tersebut diungkapkan bahwa 63 ribu pekerja dalam industry tidak bekerja lagi. Maka tidak mengherankan apabila jumlah pabriknya pun berkurang. Dari 4.700, kini menjadi 700 saja.

Sebenarnya, tidak hanya kenaikan cukai yang menjadi penyebabnya melainkan juga rencana revisi PP 109/2012 dan simplifikasi cukai. Entah apa yang dipikirkan pemerintah sehingga berusaha mematikan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).

Sejatinya regulasi yang diajukan, dan nantinya disahkan pemerintah harus mengarah keadilan. Yaitu, dengan cara mendengarkan seluruh pihak yang terlibat dalam sektor ini. Bukan mendengarkan sebagian kemudian langsung memutuskan hingga menjadi Peraturan Menteri Keuangan (PMK).

Dalam PMK No 152, tampak tarif cukai bervariasi. Menurut ketua Asosiasi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI), dengan variasi demikian, diprediksi harga rokok mencapai angka minimal Rp30.000,-. Tentu saja, ini angka yang berat bagi penikmat rokok.

Regulasi ini hanya menguntungkan ekonomi negara tanpa memerhatikan ekonomi di bawahnya yaitu pabrik dan pekerjanya. Logikanya, jika harga rokok naik, otomatis penikmat rokok akan berpikir dua kali untuk mengonsumsinya. Jika tidak ada yang mengonsumsi, lambat laun pabrik menuju kebangkrutan.

Padahal, jika bangkrut, pendapatan negara khususnya cukai jelas ambruk. Sebab, cukai rokok menyumbang 96 persen pendapatan negara. Roki ulangi, 96%. Ya, kamu tidak salah membacanya. Maka, sungguh heran logika pemerintah.

Jika pemerintah beralasan bahwa orang Indonesia pasti merokok, tunggu dulu. Alternatifnya, orang-orang sudah menjajaki metode baru. Linting rokok. Ini yang perlu diketahui pemerintah. Maka, pikirkanlah baik-baik, Pemerintah. Cuan yang negara miliki sebagian besar berasal dari pekerja SKT. Lindungi mereka atau pendapatan negara akan terjun bebas.

Komentar Anda
Category : Kabar