rokok merokok

Kenapa Masih Ada Fenomena Anak Merokok?

Satu persoalan terkait rokok yang tidak menimbulkan banyak perdebatan adalah perkara anak merokok. Dalam hal ini, baik orang yang merokok atau pun membenci rokok (harusnya) sepakat; anak-anak tidak boleh merokok. Sayangnya, hingga saat ini fenomena anak merokok masih ada dan menjadi persoalan.

Sebenarnya ada beberapa faktor yang membuat anak-anak menjadi perokok. Lingkungan dan pergaulan tentu berpengaruh, tapi sebenarnya yang paling utama tentu saja karena anak-anak masih bisa membeli rokok dengan santai. Kalau pun tidak bisa di minimart, warung kelontong masih mempersilakan mereka untuk membeli rokok. Ini yang menjadi persoalan.toko rokok

Perkara akses untuk membeli rokok ini adalah persoalan yang harusnya segera diselesaikan. Ingat, yang jadi perkara ini akses pembelian, bukan persoalan harga atau model pembelian ketengan. Mau itu harganya mahal, cuma bisa dibeli bungkusan, selama akses pembelian tidak diurus dengan serius ya bakal sama saja. Tidak akan berpengaruh apa-apa.

Selama aturan pembelian rokok dan penegakkannya dilakukan dengan tegas, tidak bakal ada anak-anak yang membeli rokok. Mereka tidak nisa mendapatkan akses untuk membeli di warung-warung yang menjual rokok, baik secara eceran atau bungkusan. Mau beli di toserba juga susah, karena aturan tidak memperbolehkannya. Sepanjang itu dilakukan, harusnya akses anak-anak membeli rokok makin sempit dan sulit.

Kalau sudah terbatasi aksesnya, tentu mereka tidak bisa mendapatkan rokok untuk dikonsumsi. Kalau tidak ada rokok untuk dikonsumsi, ya mereka tidak akan menjadi perokok. Setidaknya, sampai usia mereka 18 tahun. Kalau sudah di atas itu, ya urusan pribadi masing-masing aja.rokok

Jadi, sebenarnya anggapan kalau harga rokok murah atau cara membeli ketengan bukanlah faktor penting dalam urusan anak merokok. Selama akses pembelian rokok dibatasi, mereka tidak akan bisa membeli rokok. Dan agar semua ini berjalan, ya aturan harus ditegakkan. Buat apa punya aturan soal rokok kalau tidak dijalankan dengan baik dan benar.

Terakhir, satu hal yang tidak kalah penting adalah perkara edukasi. Harusnya, orang yang belum cukup umur diedukasi agar tidak merokok karena secara mental mereka belum mampu bertanggungjawab atas barang konsumsi ini. Nah, edukasi ini bisa dilakukan oleh sekolah, orang tua, atau setidaknya orang yang lebih dewasa. Kalau memang menemukan anak di bawah umur merokok, ya ditegur, jangan dibiarkan. Berikan mereka edukasi dan pemahaman, agar ke depannya tidak lagi merokok.

Komentar Anda
Category : Artikel
Tags :