Kenapa Tembakau Rasa Rokok Menjadi Favorit?

Sejak kenaikan cukai per 1 Februari 2021, perokok kian was-was. Paslnya, pada tahun sebelumnya, cukai rokok telah naik. Akhirnya, harga rokok pun ikut melambung. Lalu, perokok beralih ke tingwe. Dan untuk menyiasati keinginan membelinya, perokok membeli tembakau rasa rokok.

Inilah yang pada akhirnya di beberapa kota mulai menjamur toko tembakau. Misal, Jogjakarta. Hampir di setiap jalan besar, jarak antara 300 hingga 500 meter, pasti ada toko tembakau.

Yang mereka sajikan di toko tersebut ada banyak varian. Mulai dari tembakau yang bernama kedaerahan seperti tembakau Gayo, tembakau Temanggung hingga tembakau rasa rokok. Untuk yang terakhir, permintaan semakin meningkat. Kok, bisa?

Baca Juga: Harga Tembakau yang Baik untuk Para Petani

Tembakau Rasa Rokok yang Kian Digemari

Harga bervariatif, jumlah batang rokok yang dilintang, hingga menghemat dompet menjadi tiga alasan mengapa tembakau rasa tersebut digemari.

Memang, tidak bisa mungkiri akhirnya perokok perlu mengakali hal tersebut. Bagaimana caranya mereka tetap bisa merokok, dengan harga murah, tapi mendapatkan sensasi wah.

Sebagai contoh ketika Roki menyasar ke salah satu marketplace. Untuk harga tembakau rasa Surya, dengan 100 gram cukup ditebus Rp17.000. Sedangkan rasa Sampoerna Mild, perokok cukup menebus dengan harga Rp12.000/100 gram.

Nah, teman Roki yang pernah membeli salah satunya, bisa cukup untuk tiga minggu. Hasil lintingannya bisa mencapai puluhan batang. Maka, tidak heran jika tembakau rasa itu banyak diincar dan digemari oleh banyak perokok.

Ketika melihat harga yang seperti itu, seharusnya pemerintah sadar bahwa menaikkan cukai rokok bukanlah solusi untuk menambah pendapatan negara. Perokok selalu punya cara untuk menyiasati hal tersebut.

Negara, yang seharusnya bahagia, malah kian sengsara. Sebab, secara otomatis perokok tidak akan membeli produk itu lagi. Perokok akan memilih tingwe.

Maka, tidak heran apabila ada yang menyebut tingwe sebagai bentuk perlawanan perokok terhadap negara. Selain itu, tingwe sebagai solusi untuk mengakali dompet.

Jadi, negara seharusnya sadar. Mereka membikin kebijakan harus menimang baik dan buruknya. Jika buruknya ternyata lebih besar daripada kebaikan, harusnya dibatalkan. Jika terus begini, jangan kaget apabila perokok terus mengincar tembakau rasa rokok.

Baca Juga: Pembelian Tembakau Iris Meningkat, Rokok Tingwe Menjadi Solusi Rakyat

Komentar Anda