harga rokok murah

Ketika Kelas Proletar Dilarang Merokok Karena Kenaikan Harga Rokok

Harga rokok memang naik tinggi. Meski belum benar-benar naik signifikan, tapi ke depannya, setidaknya dalam 2 bulan ke depan pasti akan naik tinggi. Kisarannya ada di angka 30%, sebagaimana kisaran kenaikan tarif cukai yang ada di atas 20%.

Karena kenaikan ini, kemudian muncul kembali wacana bahwa harga rokok memang harus mahal. Jika memang tidak bisa mengurangi jumlah perokok, setidaknya hal ini dianggap bisa membuat orang miskin berhenti merokok. Lah masa orang miskin merokok, bayar jaminan kesehatan saja susah, kok berani-beraninya keluar uang banyak untuk beli rokok.

Ya, hal semacam ini kemudian hadir dalam perbincangan publik di media sosial. Anggapan bahwa orang miskin sebaiknya tidak merokok yang hadir tentu mencederai semangat perjuangan kelas oleh rakyat. “Biarkan rokok menjadi barang mahal yang cuma bisa dikonsumsi orang kaya saja,” begitu kira-kira argumennya.

Bagi kami kaum proletar, hal ini bukan hanya mencederai jiwa miskin kami, tetapi juga menghina kerja keras kami. Kami boleh miskin, dianggap kekurangan uang dan tak mampu membeli barang-barang yang berkecukupan. Namun, bagi kami, rokok adalah kebahagiaan, hal rekreatif yang mampu kami jangkau walau harga rokok makin tak masuk akal.

Ya, dulu rokok adalah satu-satunya hal berbau rekreatif yang terjangkau untuk kami nikmati. Kini, meski harganya makin mahal, tapi ya itu satu-satunya yang masih terjangkau bagi kami. Ketimbang harus ke bioskop atau minum kopi di starbucks tiap hari, ya mending sebatas saja kan. Toh, kalau cuma persoalan harga rokok, masih bisa kita lawan dengan tingwe.

Lagipula, rokok bukanlah barang yang dimonopoli hanya untuk orang kaya. Rokok, kretek terutama, adalah produk yang justru lekat dengan kelas proletar seperti kami. Mereka adalah teman kami di saat sulit, juga kawan kami di kala melampiaskan rasa lelah pasca diisap keringatnya oleh perusahaan. Rokok adalah tempat kami menikmati mengembalikan energi setelah dihabisi oleh kejamnya korporat.

Kalau rokok saja menjadi bayang yang dimonopoli orang-orang kaya, mungkin kami para proletar bin miskin ini memang hanya boleh menikmati ampas kehidupan. Bangun tidur subuh, kena macet berangkat kerja, kerja sampe sore, pulang kena macet lagi, sampai rumah makan sebentar lalu tidur, dan pagi bangun untuk kerja lagi lagi dan lagi.

Komentar Anda
Category : Kabar
Tags :