perokok perempuan merokok

Larangan Perempuan Merokok di Universitas Pamulang Cermin Biasnya Gender di Indonesia

Sebuah maklumat dikeluarkan oleh Kampus Universitas Pamulang (Unpam) yang terletak di Tangerang Selatan. Maklumat itu berisikan larangan merokok bagi para perempuan merokok dengan konsekuensi dikeluarkan dan di dropout dari kampus. Maklumat yang menurut saya fatal dilakukan oleh sebuah civitas akademika. Sebuah maklumat yang menurut saya juga tak menggambarkan sikap yang seharusnya dilakukan oleh sebuah lembaga pendidikan.

Larangan ini diketahui oleh khalayak setelah diberitakan oleh health.detik.com yang rilis pada Rabu(8/1). Di dalam berita tersebut disebutkan bahwa larangan ini memang baru dipampang di berbagai titik kampus, namun aturan ini sudah ada sejak kampus tersebut didirikan. Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pihak Unpam, walau demikian kebijakan bias gender ini memang harus mereka pertanggungjawabkan.

Masalah gender memang menjadi salah satu isu yang disorot di Indonesia pasca reformasi. Bukan malah menjadi sesuatu yang membaik seiring terbukanya keran demokrasi, gender justru jadi problem besar di Indonesia. Sebuah survei yang dikeluarkan oleh The Global Gender Gap Report (PDF) menyebutkan bahwa Indonesia bertengger di peringkat enam dengan indeks sebesar 0,691 soal gap gender. Indonesia kalah oleh Filipina yang berada di puncak dengan skor 0,790. Studi pembanding lain menyebut, capaian yang Filipina raih termasuk menonjol di Asia, selain Singapura.

Ketika pemerintah dan elit penguasa tutup mata pada permasalahan gender, seharusnya kampus sebagai sebuah institusi pendidikan menjadi tempat untuk pendidikan kesetaraan gender itu sendiri. Namun, fakta yang terjadi justru kebalikan. Sebelum muncul maklumat larangan merokok di Unpam ada, banyak juga kasus gender yang justru malah ditutup-tutupi. Contoh saja kasus kekerasan seksual yang malah pihak pelaku justru dilindungi oleh pihak kampus.

Kini, apa yang dilakukan oleh Unpam justru memperburuk keadaan dan memperparah ketimpangan gender di Indonesia. Saya mengatakan kampus Unpam sangat patriarki dengan membuat kebijakan ini. Mereka memang tidak peduli betul terhadap pendidikan kesetaraan gender. Terlebih diperburuk dengan aturan larangan merokok terhadap mahasiswi dan hukuman yang lebih berat.

Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tentang perokok wanita menunjukkan bahwa perokok perempuan di Indonesia tahun 2017 diperkirakan sekitar 6,3 juta orang. Sedangkan Sri Mulyani pada September 2019 lalu menyebutkan bahwa jumlah perempuan merokok naik sebesar 2,8 persen menjadi 4,8 persen dari seluruh total warga di negeri ini.

Seharusnya tidak ada yang masalah dari insan mana pun tak pandang jenis kelaminnya soal konsumsi rokok. Lagian secara undang-undang tidak ada peraturan yang melarang perempuan merokok. Baik laki-laki dan perempuan juga punya hak yang sama dalam mengkonsumsi produk tembakau tersebut.

Stigma tentang perokok perempuan juga masih saja negatif di Indonesia. Padahal banyak sekali tokoh perempuan di Indonesia yang juga aktif merokok. Sebut saja, Menteri Kelautan Republik Indonesia Periode 2014-19, Yaitu Sri Mulyani. Ada juga penyanyi top yang saat ini tengan naik daun, Danilla. Kalau kita mau melihat lebih jauh, kisah-kisah terdahulu juga menyebut leluhur kita yaitu Roro Mendut juga seorang perokok. Tapi lihatlah bakti mereka bagi bangsa kita, tak terbantahkan toh?

Saya juga tak mempermasalahkan adanya larangan merokok, asal sesuai dengan aturan yang berlaku. Misalnya, di tempat-tempat yang memang dilarang merokok seperti rumah sakit. Namun memberi larangan serta hukuman yang tak adil karena gender adalah sesuatu yang patut dilawan. Semestinya hukum berlaku adil tanpa memandang apa pun. Jika ini dibiarkan maka bukan berarti diskriminasi dalam hal lain akan berlaku dan mendapatkan pembiaran.

Tulisan ini juga mengajak kepada para pembaca terkhusus mahasiswa Unpam untuk bergerak mengkritik kebijakan yang diterapkan oleh kampus tersebut. Bagaimana pun juga, mahasiswa mempunyai ruang yang besar untuk peduli terhadap masalah yang terjadi di sosial mereka, setidaknya dari lingkup kampus. Mahasiswa juga harus lebih peduli terhadap isu gender yang memang selama ini masih kurang diperhatikan. Jika tidak dimulai sekarang, maka kapan lagi masalah ini akan terus dibiarkan?

Komentar Anda
Category : Artikel
Tags :