Manfaat Tembakau, dari Kesehatan hingga Kuliner

Seperti yang banyak diketahui orang, tembakau merupakan bahan baku rokok yang memiliki beragam varietas. Di Indonesia, penggunaan tembakau tak hanya digunakan sebagai bahan rokok, tapi juga digunakan sebagai salah satu bahan nginang, nyusur.

Nginang adalah kegiatan mengunyah rajangan tembakau bersama dengan sirih, buah pinang dan kapur. Tradisi ini masih sempat bertahan pada tahun 2008-an di beberapa kampung di Jawa. Sedangkan di luar Jawa, tradisi mengunyah pinang masih dilakukan seperti di NTT, Papua dan Maluku.

Menurut penelitian, tradisi nginang ini bermanfaat menjaga kebersihan gigi, kekuatan gigi sebab kombinasi bahan yang terdapat dalam daun sirih menghambat pertumbuhan bakteri-bakteri yang bersarang di gigi.

Manfaat Daun Tembakau

Pengetahuan tentang manfaat tembakau sepertinya sebagian besar hanya diketahui masyarakat tradisional. Hampir umumnya dapat kita temukan di keseharian masyarakat yang masih menjaga nilai-nilai budaya. Sebelum berkembang rokok pabrikan seperti sekarang, dulu masyarakat membuat rokok dengan cara dilinting, hingga populer dengan sebutan tingwe. 

Seiring perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan, riset tentang tembakau menghasilkan temuan-temuan yang menyatakan manfaat medisnya. Penelitian dari seorang Neurolog Perancis menyatakan bahwa nikotin dapat mengurangi reaksi berlebihan pada sistem imun tubuh, beberapa kali ditemukan pada kasus pasien Covid-19 yang kritis.

Baca Juga: Ragam Persentuhan Masyarakat Bali dengan Tembakau

Potensi pengembangan tembakau sebagai bahan medis tentu diharapkan sebagai alternatif pandangan-pandangan medis yang miring terkait produk pertanian tersebut.

Pada satu pengalaman, ketika naik gunung, saya pernah melepaskan gigitan lintah dengan mengoleskan daun tembakau. Selain itu, ayam yang terkena kutu dapat diatasi dengan cara membasuh air rebusan daun tersebut pada ayam yang sakit. Bahkan, juga dapat digunakan sebagai analgesik pada sakit gigi. 

Pengetahuan-pengetahuan lokal seperti di atas tentunya jarang kita ketahui dari media. Sifatnya lebih turun temurun atau jadi kearifan lokal di suatu daerah.  Sehingga proses transfer pengetahuan ini didapatkan melalui proses interaksi sosial

Seperti nasi goreng bumbu tembakau yang ada di Temanggung misalnya. Tembakau tidak hanya hadir dalam bentuk kretek, nginang dan obat tradisional. Ia juga hadir sebagai salah satu olahan kuliner khas Temanggung. Pemanfaatannya sebagai salah satu bumbu racikan nasi goreng menambah citarasa pahit. Selain bumbunya, nasi goreng Temanggung juga memiliki racikan khusus dan tambahan jamur.

Sekedar informasi, bahwa nasi goreng Temanggung terdapat dua jenis, yang pertama nasi goreng mbako biasa dengan harga sekitar Rp14.000 dan mbako Srinthil dengan harga Rp17.000. Tentu, ini akan menambah khazanah kekayaan kuliner nusantara kita yang mempunyai citarasa bumbu yang unik. 

Baca Juga: Rokok, Benda Sakral untuk Ritual Masyarakat Nusantara

Komentar Anda
Category : Artikel