Mengisap Rokok Itu Pilihan, Bukan Keharusan

Adakah temanmu yang melarang kamu untuk merokok? Apa alasan mereka? Apakah karena mereka sayang padamu? Atau apakah mereka melihat bahwa merokok dapat menyebabkan kanker dan serangan jantung? Atau rokok adalah barang haram? Atau ada yang lain.

Jika kamu mendapatkan pertanyaan demikian, maklumi saja. Akan tetapi, apabila mereka cenderung memaksa, bolehlah kamu untuk meresponsnya. Katakan padanya bahwa merokok adalah pilihan. Setiap perokok tentu memiliki takaran tanggung jawab masing-masing.

Bahkan, setiap perokok sudah tahu akan risikonya. Namun, bukankah apa yang masuk dalam tubuh pasti memiliki risiko? Sekecil apa pun risikonya? Maka, yang sering memaksa kamu untuk berhenti merokok, katakanlah seperti ini.

Mengisap rokok itu pilihan, bukan keharusan.

Baca Juga: Rokok, Kopi, Kiai, dan Santri

Merokok Adalah Pilihan

Roki memiliki keberuntungan yang amat baik. Sebab, Roki berada di lingkungan yang memahami apa yang Roki butuhkan. Di lingkungan Roki, tak ada pemaksaan atau pelarangan. Sebab, mereka percaya bahwa Roki adalah manusia dewasa. Manusia yang berdaulat atas dirinya sendiri.

Akan tetapi, seberapa banyak orang yang memiliki keberuntungan sama seperti Roki? Ini yang perlu ditelisik dan dipelajari lebih lanjut.

Misal, di lingkungan Roki. Orang yang merokok tahu bahwa tidak baik merokok saat berada di samping anak kecil. Ia pasti menyingkir, kemudian baru membakar batang rokok dari jangkauan anak kecil.

Begitu pula jika ada orang hamil. Mereka pun akan melakukan hal yang sama. Bahkan, apabila dalam suatu diskusi ada yang tidak merokok, mereka akan bertanya.

“Boleh merokok di sini?”

Beberapa perilaku di atas adalah sebagian dari contoh perokok santun. Mereka membakar batang rokok pun tahu tempat dan waktunya. Bahkan, mereka tidak mungkin mengeluarkan rokok di area larangan merokok.

Baca Juga: Pengusaha Ritel Pertanyakan Kawasan Tanpa Rokok

Ini yang harus diketahui oleh kaum antirokok. Tidak ada sifatnya yang wajib. “Perokok bisa bebas di mana saja. Kalo tidak mengeluarkan rokok, nanti dikira mengurangi hak asasi.” Kalimat itu hanyalah sentimen belaka. Atau jangan-jangan sentimen diciptakan agar perokok ikut tersulut?

Jangan sampai begitu. Yang tersulut cukup api dari batang rokok. Kalo api berbentuk kemarahan, lebih baik disalurkan kepada mereka yang menuduh perokok, sebagai penyebab kematian tertinggi di dunia. Hadeh.

Komentar Anda
Category : Artikel