Menyoal Gambar Seram di Bungkus Rokok

Pernahkah kamu memperbandingkan kemasan rokok dengan kemasan vape? Manakah di antara keduanya yang menampilkan gambar seram, seperti tenggorokan bolong, dada berwarna hitam dan kanker mulut. Ya, gambar bungkus rokok memang menyeramkan.

Asal-muasal dari bungkus rokok yang menyeramkan ini merupakan kampanye Pictorial Health Warning oleh kelompok Antirokok. Kemasan depan rokok dikavling 40% untuk gambar-gambar penyakit mematikan, seolah-olah rokok adalah racun; merokok adalah mengonsumsi racun. Tujuan kampanye mereka salah satunya untuk menekan prevalensi perokok di Indonesia. Padahal, tingkat prevalensi dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti bidaya, pendidikan, ekonomi dan sosial.

Pictorial Health Warning sendiri adalah sebuah kampanye menggunakan isu kesehatan sebagai senjata untuk memperluas area PHW pada kemasan rokok. Kampanye ini merupakan bagian dari agenda FCTC yang dalam buku Nicotine War tulisan Hamilton digambarkan sebagai upaya monopoli isu kesehatan untuk memerangi tembakau dan kretek.

Gambar Seram untuk Apa?

Menurut beberapa penelitian, kampanye ini memang bertujuan membunuh tembakau itu sendiri alih-alih menyelamatkan para perokok. Kelompok pro PHW ini mendorong pemerintah segera melakukan revisi atas PP 109/2012 yang menjadi kunci regulasi produk tembakau.

Harapan mereka ketika revisi tersebut tercapai, maka 90% bungkus rokok akan menampilkan penyakit yang lebih seram lagi. Konsekuensinya, perokok yang enggan dan jijik melihat gambar tersebut meninggalkan rokok dan berhenti.

Baca Juga: Mana yang Lebih Bahaya, Vape atau Rokok?

Hal tersebut tak terlepas dari dukungan pendanaan terhadap gerakan antirokok di Indonesia dengan berbagai instrumen dan institusi, baik formal maupun informal. Mereka satu suara ketika berbicara visualisasi penyakit jantung, kanker, tumor dan lain-lain dalam bungkus rokok.

Isu edukasi kesehatan kepada masyarakat adalah dalih mereka dalam mempropagandakan kepentingannya. Sasaran mereka sebetulnya adalah Industri Hasil Tembakau (IHT). Singkatnya, ini adalah sebuah Perang Dagang.

Dalam sebuah perang, tentu ada yang menang dan yang kalah. Jika IHT kalah dalam perang isu di masyarakat, maka bagaimana nasib orang-orang yang terlibat dalam mata rantai perekonomian tembakau dari hulu sampai hilir? Bagaimana dengan kretek sebagai warisan budaya Nusantara? Apakah kita rela semua itu hilang sebagaimana yang pernah terjadi kepada minyak kopra di tahun 1980-an dulu?

Kembali ke soal Bungkus Rokok.

Apakah analogi demikian juga berlaku sama dalam sepeda motor, dengan menampilkan korban kecelakaan lalu lintas akibat berkendara? Kan, tentu tidak. Setiap orang berhak untuk tidak khawatir atas keputusannya, termasuk untuk merokok. Kesadaran ini tidak bisa diintervensi kelompok mana pun, termasuk pro PHW.

Baca Juga: Ini Merek Rokok Menthol Terbaik di Indonesia

Komentar Anda