Meski Bingung, Orang Tetap Merokok. Kenapa?

Sering kita temui, orang-orang yang masih tetap merokok di usia lanjut. Argumentasi kesehatan tidak mampu meruntuhkan keinginannya untuk tetap melakukan aktivitas tersebut. Mereka berpendapat bahwa merokok mati, tidak merokok juga mati. Maka, teruslah merokok sampai mati. Kasarnya seperti itu. Pilihan untuk tetap melakukannya terkadang juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi kehidupan yang pasti penuh dengan masalah, seperti masalah keluarga, masalah keuangan dan masalah di tempat kerja.

Ya, merokok dapat berfungsi sebagai aktivitas untuk melepaskan penat dan lelah pikiran. Dikutip dari mentalhealth.org, beberapa orang menghisap rokok sebagai bagian dari self-medication untuk menenangkan pikiran dan melepas stress. Sejak dulu, kandungan pada tembakau telah diakui para ahli; dapat memberi efek relaksasi dan pengobatan. 

Merokok dari Kacamata Peneliti

Penelitian Silverstein tahun 1982 dengan judul Cigarette smoking, nicotine addiction, and relaxation menghasilkan satu temuan bahwa merokok, di samping menyebabkan ketagihan juga menghasilkan efek relaksasi. Jurnal kesehatan ini mengungkap bahwa ada efek positif orang merokok yang tidak hanya berhubungan dengan fisik, tetapi efek positif terhadap kondisi mood.

Pengetahuan seperti temuan Silverstein di atas memang sepertinya hanya beredar terbatas di kalangan akademisi, terutama akademisi cum perokok. Bahwa riset-riset tentang dampak positif merokok adalah efek kandungan nikotin yang selama ini dimusuhi dan dianggap racun. Baca saja bagaimana skema konspirasi peperangan membunuh tembakau dalam buku Wanda Hamilton yang berjudul Nicotine War. Orang merokok selalu diperangi karena tembakau adalah sumber kejahatan, merokok adalah aktivitas kejahatan atau kriminal.

Baca Juga: Kadar Nikotin pada Tembakau

Pada tahun 1990, Kongres Amerika Serikat  menyatakan bahwa nikotin membuat tubuh merasa rileks, energik. Efek tersebut dikenal sebagai biphase effect. Efek Bifase berfungsi untuk menekan hormon kortisol. Dalam kondisi bingung atau stress, tubuh akan merespon dengan mengeluarkan 3 hormon dengan gejala degup jantung yang lebih cepat dan syaraf tegang. 3 hormon itu adalah hormon adrenalin, hormon kortisol dan hormon norepinefrin.

Hormon Kortisol adalah hormon stres utama, yang sangat berperan dalam menghadapi stres. Bedanya dengan dua hormon sebelumnya, efek kortisol ini tidak langsung muncul saat pertama kali dihadapkan dengan stres. Butuh waktu beberapa menit untuk merasakan efek dari lonjakan kortisol.

Sebagaimana kita tahu, permasalahan ekonomi adalah salah satu faktor utama penyebab stres. Ketidakpastian kondisi finansial akibat PPKM, banyak usaha yang gulung tikar akibat pembatasan transportasi menyebabkan tingkat kriminalitas meningkat tajam. Dua hal tersebut adalah sebagian kecil yang dapat dibaca dalam konteks penyebab kebingungan masyarakat dan penyebab stress bagi kalangan terdampak pandemi ini.

Bersyukur, sebagai perokok, mereka tidak memboikot pabrik rokok dengan cara berhenti merokok. Meskipun rokok bukan kebutuhan primer, tetapi, bagi sebagian orang, rokok adalah kebutuhan yang nyaris primer. Hal ini tentu penting untuk tetap menggerakan sektor ekonomi pertembakauan yang terhubung dengan banyak sektor lain seperti petani tembakau dan buruh linting tembakau.

Baca Juga: Berapa Kandungan Nikotin dalam Satu Batang Rokok?

Komentar Anda