Orangtua Perokok Itu Biasa Saja

Menjadi insan ududiyah alias manusia perokok di Indonesia itu memang luar biasa membutuhkan kesabaran yang betul-betul luas. Dalam Bahasa agamanya disebut Sabr-Ala-Sabr, kesabaran di atas kesabaran orang biasa. Tetapi, merokok itu sendiri adalah aktivitas yang biasa saja alias lumrah. Yang luar biasa adalah bias para kalangan antirokok yang menuduh bermacam-macam.

Kalangan antirokok sering mengembuskan isu negatif terhadap perokok yang memiliki anak seperti ayah yang merokok, ibu yang merokok. Pilihan menjadi orang tua perokok adalah pilihan individu yang harus disertai pemahaman akan konsekuensi menjadi orang tua perokok. Misalnya, dituduh tidak memberikan contoh yang baik terhadap anak, dituduh tidak memperhatikan kesehatan di lingkungan keluarga, dituduh tidak menghemat uang untuk kebutuhan yang lain. Dan lain-lainnya.

Merokok Bisa Stunting?

Ada lagi isu lucu yang diembuskan kalangan antirokok, yaitu merokok dianggap menyebabkan stunting alias gizi buruk. Isu stunting ini kerap kali dibunyikan oleh antirokok yang disasarkan kepada para perokok. Bahwa aktivitas orang tua merokok membawa dampak serius terhadap pertumbuhan anak. Menyebalkan betul memang menjadi orang tua yang merokok, sudahlah cukainya diperah untuk mengisi pundi-pundi devisa negara, masih pula menanggung stigma brengsek.

Isu ini tidak jauh dari permainan isu yang dibawa oleh para agen FCTC. Perlu diketahui, isu gizi buruk ini adalah salah satu sasaran yang dituju agar orang tua menjadi barisan buzzer gratisan isu antirokok di lingkungan keluarga. Lihat saja bagaimana stigma terhadap orang tua perokok di sinetron-sinetron salah satu stasiun TV swasta, terkesan orang tua yang tidak memiliki akhlak dan suri tauladan yang baik terhadap anak-anaknya dan lingkungan masyarakat.

Baca Juga: Pilih Satu Bungkus Rokok atau Ketengan?

Kembali ke soal FCTC. FCTC adalah traktat tentang pengendalian tembakau global, ditandai sejak tahun 2000. Traktat yang sarat kepentingan politik dagang kapitalisme farmasi dalam upaya memonopoli paten nikotin ini menggunakan berbagai cara. Di antaranya dengan menggunakan lembaga-lembaga riset, baik dalam maupun luar negeri, untuk mendiskreditkan produk tembakau. Termasuk di antaranya lembaga-lembaga yang membunyikan isu stunting yang dikaitkan dengan upaya pencapaian target RPJMN untuk menurunkan prevalensi stunting di Indonesia.

Ayah perokok kerap kali dituding mengesampingkan pemenuhan gizi anak, dengan asumsi bahwa perokok lebih mengutamakan membeli rokok ketimbang mencukupi kebutuhan gizi anak. Setiap ayah tentu memiliki dedikasi dalam menjawab tantangan hidupnya sebagai kepala keluarga.

Baca Juga: Olahraga Ajang Taruhan Rokok Antar Kawan

Komentar Anda