Perokok Anak Mulai Turun di Indonesia

Isu peningkatan jumlah perokok anak menjadi satu senjata andalan gerakan antirokok untuk menyudutkan rokok dan perokok. Hal ini tidak terlepas dari ancaman kesehatan yang mengancam bukan hanya perokok, tetapi lingkungan sekitar perokok, yaitu anak kecil, ibu hamil, lansia dan manula. Dalam iklan rokok terbaru setelah PP 109/2012, ada salah satu tampilan bungkus rokok yang menyatakan bahaya rokok dengan mengatakan merokok membunuhmu.

Berbicara tentang isu, maka tidak bisa dilepaskan dari yang namanya data. Jika gerakan antirokok selalu mendiskreditkan perokok menggunakan data peningkatan jumlah perokok anak di bawah usia 15 tahun, data BPS menunjukkan fakta lain. Dari tahun 2018-2020, prevalensi perokok anak di bawah usia 15 tahun menurun dari 20,59% menjadi 10,61% di tahun 2020. Penurunan angka perokok tersebut terlihat drastis di tahun 2019 pada angka 10, 54 %.

Baca Juga: Orang Merokok Lebih Santai dan Rileks

Berdasarkan tiga sampel tahun tersebut, terdapat penurunan signifikan angka perokok sebesar 9,65%, berturut-turu 3,87% dan 3,81%. Data tersebut mengatakan kepada kita, bahwa yang dimaksud prevalensi perokok Anak sudah mulai turun di Indonesia. Prevalensi, berarti satu gejala umum atau juga bisa disebut kelaziman. Suatu tren statistik menjadi lazim sebab ada penurunan berturut-turut dari satu fase waktu ke fase waktu yang lain.

Sedangkan, gerakan antirokok selalu menyudutkan rokok sebagai the most evil source. Melalui skema revisi PP 109/2012, mereka berupaya keras untuk mengupayakan agar regulasi terhadap rokok dan perokok semakin diperketat. Salah satunya adalah pelarangan display rokok di toko, warung dan supermarket untuk mencegah keinginan anak-anak merokok. Hal konyol lainnya adalah penayangan iklan rokok yang diatur sedemikian rupa. 

Ambivalensi Iklan di Televisi

Pada tahun 2012 KPAI merilis data hasil penelitian tentang dampak iklan rokok di televisi terhadap minat anak untuk merokok. Disebutkan terkait data itu, bahwa di 10 kota ditemukan sebanyak 93 persen anak mengetahui dan tertarik iklan rokok lewat media televisi. Kemudian, sebanyak 34 persen dari 10 ribu anak mengaku merokok karena tertarik saat acara musik. 

Sebagai sesama produk dengan emisi karbon, hanya rokok yang dilarang ditampilkan di televisi, kendaraan bermotor boleh. Sebagaimana kita tahu, iklannya dipastikan menampilkan produknya serta kehebatan saat mengendari produk tersebut. Namun, ini tentu tidak akan dilihat membawa dampak bagi anak oleh KPAI. Pokoknya rokok adalah barang buruk, layak disingkirkan.

Sedangkan menurut data dari TCSC Indonesia, mengatakan bahwa perokok anak delapan kali lebih mungkin Gunakan Narkoba. Data yang mereka gunakan mengacu pada data KPAI pula, di mana menurut KPAI, Dari 70 juta anak di Indonesia, 37 persen atau 25,9 juta anak diantaranya merokok. Sebanyak 43 juta anak usia hingga 18 tahun terancam penyakit mematikan. Angka kematian akibat rokok di Indonesia mencapai 427.923 jiwa/tahun.

Tetapi yang aneh di sini adalah, bahwa data-data yang digunakan tidak menampilkan data lain yang menyebutkan bahwa terdapat penuruan jumlah perokok anak di Indonesia. Terdapat satu konteks peristiwa di mana data itu diletakkan untuk menguatkan argumentasi. 

Baca Juga: Benarkah Rokok Bikin Perut Kembung?

Memang betul, bahwa harus ada pembatasan terhadap perokok anak, terutama di bawah umur 15 tahun. Tetapi, dengan cara menggeneralisir semua perokok dan produk rokok harus dibatasi sedemikian rupa, itu seperti membunuh tikus dengan membakar ladang. Celaka namanya.

Komentar Anda