ruang merokok

Ruang Merokok Minim Tersedia, Indonesia Bukanlah Surga Bagi Perokok

Katanya Indonesia adalah surga bagi perokok. Orang dapat dengan mudah membeli rokok dan mengonsumsinya. Mereka juga bisa merokok di mana saja.

Setidaknya begitulah pandangan yang ada di kepala orang-orang yang membenci rokok dan memusuhi perokok. Menurut mereka, para perokok bisa merokok seenaknya dimana saja. Padahal kita sama-sama tahu, di Indonesia telah ditetapkan aturan kawasan tanpa rokok. Artinya, para perokok hanya bisa membakar ududnya di tempat-tempat tertentu. Hanya di ruang merokok yang telah disediakan.

Memang, masih ada sebagian perokok yang menghisap rokok dengan seenaknya sendiri. Masih menghisap rokok tanpa peduli ada di angkutan umum atau kondisi sekitarnya. Tapi percayalah, jumlah orang-orang seperti itu telah berkurang seiring dengan bertambahnya ruang merokok yang tersedia. Meski tetap saja, ruang yang ada tidak mencukupi kebutuhan perokok.

Tidak banyak tempat publik yang menyediakan ruang merokok layak dan nyaman. Biasanya cuma menyediakan satu pojokan yang diberikan papan tanda boleh merokok. Kadang disediakan asbak, lebih sering cuma disediakan tempat sampah. Kursi, jangan banyak berharap. Lebih banyak ruang merokok yang mengharuskan kretekus berdiri.

Di stasiun kereta, misalnya. Paling hanya stasiun-stasiun besar saja yang menyediakan ruang khusus merokok. Sementara pengguna commuter di Jakarta amat kesulitan menemukan ruang yang membolehkan mereka merokok. Padahal ya jadwal KRL masih sering telat dan waktu tunggunya lumayan lama.

Di bandar udara pun begitu. Tidak banyak bandara yang menyediakan ruang merokok layak dan nyaman untuk penggunanya. Kalau pun ada, yang paling mumpuni hanya Bandara Soekarno Hatta di Tangerang dan I Gusti Ngurah Rai di Denpasar. Sementara di bandara lain, hanya kafe-kafe yang kadang menyediakan ruang merokok untuk pelanggannya.

Tapi ya tadi, masih banyak tempat umum yang tidak patuh aturan untuk menyediakan ruang khusus merokok. Walau ketersediaan ruangan ini adalah amanat undang-undang, pemerintah sepertinya lebih suka menghukum perokok bandel ketimbang pengelola tempat umum yang abai. Apalagi yang lebih sering abai ya pemerintah sendiri.

Karena itu, selama tempat kerja serta tempat umum seperti terminal, stasiun, dan bandara masih belum menyediakan ruang khusus merokok yang layak, tidak pantas rasanya Indonesia disebut sebagai surga bagi perokok. Tidak pantas rasanya Indonesia ditasbihkan sebagai negara yang ramah pada perokok.

Komentar Anda
Category : Artikel
Tags :