rumah tanpa rokok langgar privasi

Rumah Tanpa Rokok Langgar Hak Privasi Masyarakat

Surat dukungan Komisi Nasional Pengendalian Tembakau terhadap penanganan covid-19 hanya kamuflase. Alih-alih memberi sumbangsih nyata untuk penanganan pandemi, mereka malah mengusulkan program rumah tanpa rokok. Ini dia model kampanye antirokok gaya baru.

Surat ini ditujukan kepada Presiden Jokowi sebagai upaya memerangi pandemi. Tapi, seperti sudah disebut di atas, ketimbang membahas pandemi isi surat tersebut lebih banyak membahas perkara rokok. Mulai dari dorongan revisi PP 109/2012, larangan iklan rokok, hingga  larangan aktivitas merokok.

Hal yang patut kita perhatikan dengan serius adalah dorongan untuk meningkatkan aturan KTR menjadi rumah tanpa rokok. Gila, orang sudah dilarang merokok di tempat umum, kini dilarang juga merokok di rumahnya sendiri. Sebuah aturan yang kira-kira sudah cacat sejak dalam pikiran.

Coba bayangkan, seandainya benar terwujud, aturan rumah tanpa rokok adalah bentuk pelanggaran hak privasi masyarakat. Bagaimana kemudian negara boleh mengatur aktivitas personal di dalam rumah yang tidak mengganggu ketertiban umum. Satu kegilaan baru dari dorongan kebijakan antirokok.

Begini, kalau alasannya hanya agar anggota keluarga, terutama anak-anak, tidak terganggu aktivitas merokok di rumah, ya tinggal diatur saja ruangnya.  Toh selama ini dalam urusan rumah tangga, hal-hal semacam ini bisa diselesaikan tanpa campur tangan negara, apalagi antirokok. Tinggal aktivitas merokok di lakukan di kamar masing-masing atau dilakukan di teras rumah.

Kalau yang terpenting adalah anggota keluarga lain tidak terganggu paparan asap rokoknya, maka yang perlu diatur adalah bagaimana aktivitas merokoknya, bukan malah melarangnya. Lagipula sebuah keluarga tinggal menyepakati aturan merokok di rumah. Tak perlu lah negara dan antirokok ikut campur dengan komedi rumah tanpa rokok.

Sebenarnya ketimbang diberi judul surat dukungan penanganan pandemi Covid-19, ini lebih tepat disebut sebagai surat untuk larangan merokok. Toh, isi surat dari mereka yang mendaku sebagai ahli kesehatan, atau setidaknya orang kesehatan itu isinya cuma membahas perkara rokok. Atau memang selama ini mereka tidak benar-benar berjuang untuk kesehatan masyarakat.

Seandainya memang mereka benar peduli pada urusan kesehatan masyarakat, lebih baik mereka memikirkan cara penanganan pandemi dengan serius saja. Daripada dikit-dikit bahas rokok melulu, waktu luang mereka itu bisa lebih berguna jika setidaknya mau mengevaluasi kinerja pemerintah terkait penanganan pandemi. Atau ya memang, sebenarnya mereka tidak pernah benar-benar berjuang untuk kesehatan masyarakat.

Komentar Anda
Category : Kabar
Tags :