Simplifikasi Cukai

Simplifikasi Cukai, Kebijakan Ekonomi yang Berujung Resesi

Dalam kondisi pandemi yang tidak kunjung usai, pemerintah Indonesia meluncurkan kebijakan yang memacu perekonomian. Alih-alih meningkatkan perekonomian, kebijakan ini sejatinya justru memicu pertikaian antar rakyat. Yaitu, simplifikasi cukai.

Kebijakan tersebut lahir karena melihat pendapatan negara yang pelik. Pemerintah berupaya segala cara membuat ekonomi pulih. Maka, dipilih simplifikasi cukai. Padahal, sebelumnya telah ada kebijakan kenaikan cukai.

Pemerintah rupanya tidak mawas diri. Enggan untuk belajar. Menaruh keyakinan tinggi kepada simplifikasi cukai justru memunculkan potensi kerugian.

Sejak kenaikan cukai, produksi rokok justru berkurang. Jika berkurang, apa yang mau diharapkan dari pemerintah? Perekonomian justru semakin lesu. Apalagi dengan simplifikasi cukai. Maka, bukan lesu lagi melainkan menuju jurang resesi.

Kata resesi menjadi bayang-bayang pemerintah yang tak mau Indonesia menjadi negara yang terpuruk secara perekonomian. Apalagi negara-negara besar macam Amerika Serikat dan Jerman sudah terkena dampak pandemi.

Seharusnya, pemerintah mencari cara lain—jika memang berniat memperbaiki perekonomian, ya. Sayangnya, lagi-lagi blunder. Dan, oh, ya, kata blunder memang paling cocok disematkan kepada pemerintah. Terutama dalam hal mengatasi pandemi.

Simplifikasi cukai tidak bisa serta merta diterapkan begitu saja. Menyederhanakan golongan hingga berujung satu saja adalah hal yang tidak pantas. Memaksa.

Sebab, apa jadinya jika sebuah kebijakan dipaksakan? Apa tidak ada cara lain membangkitkan perekonomian? Atau memang suka membikin lelucon di NKRI?

Orang-orang yang terbiasa menikmati golongan kelas dua dan tiga terancam tidak mampu lagi mengonsumsinya. Artinya, semakin memperberat masyarakat untuk membantu perekonomian. Lho, kenapa begitu?

Ya, harap diketahui dan dipahami pula bahwa selama ini industri rokok yang membuat perekonomian Indonesia stabil. Bahkan, industri yang berlabel kesehatan pun sampai “memohon” kepadanya. Agar industri rokok mempergunakan sebagian pendapatan untuk menambal kerugian mereka.

Bukankah ini ironis? Alih-alih menyuruh pemerintah menutup industri rokok, tapi justru memohon pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan aneh.

Beruntung, para perokok bersikap santuy. Mereka ikhlas membagi pendapatannya dengan industri yang justru melawannya. Namun, apakah sikap santuy akan berlanjut?

Tunggu dulu.

Jika simplifikasi cukai benar-benar diterapkan, tidak menjamin perekonomian selamat. Yang ada malah lonceng kematian. Gerbang telah terbuka—bahkan sampai lebar. Dan pemerintah mengajak rakyat masuk ke sana. Sedalam-dalamnya.

Akal, jika tidak dipakai secara tepat, membuat otak menjadi bebal. Pandemi, krisis ekonomi, kenaikan cukai, hingga simplifikasi cukai memperpendek garis ekonomi. Jika kurva pandemi meninggi, yang ekonomi justru membumi. Padahal seharusnya sebaliknya.

Mari kita tunggu dan simak. Apakah pemerintah sedang berupaya menjadi Youtuber? Membuat kebijakan simplifikasi cukai, sudah. Tinggal bikin klarifikasi dan minta maaf.

Selanjutnya, lima, empat, tiga, dua, satu. Open the door, Please~~~~~~~

Komentar Anda
Category : Artikel
Tags :