Tembakau adalah Hajat Hidup Rakyat Indonesia

Industri Hasil Tembakau merupakan salah satu sektor hasil perkebunan di Indonesia yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat. Direktur Teknis dan Fasilitas Cukai, Ditjen Bea Cukai Nirwala Dwi Heryanto mengungkapkan begitu pentingnya IHT bagi penerimaan negara dan penerimaan cukainya selalu melampaui target.

Tembakau bisa dikatakan menjadi simbol dari ketahanan ekonomi bangsa. Apakah maksud dari ungkapan simbol ketahanan ekonomi bangsa? Ungkapan ini bermakna bahwa sektor Industri Hasil Tembakau tidak hanya terkait pada sektor produksi daunnya oleh petani, namun juga sangat berkaitan erat dengan industri pengolahannya dari pemanenan, penjemuran, penyimpanan serta pengolahan menjadi berbagai produk rokok dengan ragam merknya. 

Baca Juga: Kenaikan Cukai Rokok Berpotensi Merumahkan Ribuan Pekerja

Sektor komoditas tembakau menyerap tenaga sebesar 4,28 juta orang di sektor manufaktur dan distribusi dan sektor perkebunan sebanyak 1,7 juta orang. Perkembangan industri ini telah menjadi bagian sejarah bangsa dan budaya masyarakat kita, khususnya rokok kretek yang merupakan komoditas berbasis tembakau dan cengkeh yang sangat Indonesia serta merupakan warisan nenek moyang bangsa dan sudah mengakar secara turun-temurun.

Tembakau, Rokok, dan Industrinya

Industri rokok menjadi salah satu industri yang dijadikan tiang Pemulihan Ekonomi Nasional di masa pandemi ini. Berdasarkan data Dirjen Bea Cukai 2019, hanya sektor perbankan yang bisa melampaui capaian sektor tembakau. 

Sepanjang tahun 2018, Sektor Tembakau tercatat berkontribusi kepada negara sebesar Rp153 Triliun. Sementara itu, tahun 2019 saja, IHT dengan total nilai industri sebesar Rp326 Triliun berkontribusi Rp200 Triliun bagi negara ini atau sekitar 61,4%. Belum lagi jika ditilik kontribusi cukainya yang dialokasikan untuk menunjang JKN.

Tembakau adalah komoditas nasional  yang menjadi simbol dari kedaulatan dan harga diri Indonesia. Oleh sebab itulah pemerintah bersikeras agar penerimaan dari sektor ini tetap meningkat dari tahun ke tahunnya sekalipun dihadang agenda FCTC. Agenda asing tidak hanya ancaman laten tetapi sudah nyata di depan nyata dalam segala agenda-agenda terselubung yang bekerjasama dengan pihak-pihak yang terang-terangan anti tembakau maupun yang samar-samar.

Sebagaimana kita tahu, IHT termasuk industri dengan peraturan yang sangat banyak (highly regulated). Selain PP 109/2012 yang dijadikan acuan utama dalam upaya mengatur segala kepentingan yang menyangkut kesehatan. Ada beberapa produk regulasi lain yang mendukung agenda di atasnya.

Beberapa pihak stakeholder menyoroti masih minimnya perhatian pemerintah terutama terkait perlindungan tenaga kerja dan petani tembakau yang dirasa belum maksimal sampai saat ini. Dalam hal perlindungan tenaga kerja di pertanian tersebut masih biasa saja tidak ada poin spesifik. Sementara perlindungan terhadap pertanian tembakau secara umum belum begitu maksimal. Budidaya tanaman ini oleh pemerintah masih dibiarkan sendiri.

Oleh karena itu, negara seharusnya terlibat dalam melindungi salah satu aset emas hijau ini. Sehingga, tidak ada kesan bahwa sektor ini tidak hanya dijadikan sapi perah oleh pemerintah selama ini, apalagi menjadi bulan-bulanan agenda asing lewat FCTC.

Baca Juga: Perda KTR Jangan Sampai Merugikan Masyarakat

Komentar Anda
Category : Kabar