Tjap Bal Tiga dan Nitisemito: Sejarah Kretek Nusantara

Apakah kalian tahu siapa yang penemu kretek nusantara? Jika belum tahu, Roki kasih tahu, ya. Jadi, orang pertama yang memperkenalkan kretek adalah H. Djamhari. Yang kelak menjadi cikal bakal Tjab Bal Tiga.

Bagaimana mulanya?

Saat itu, H. Djamhari mengalami sakit sesak. Di antara kebingungannya, ia mencari tembakau dan cengkeh yang kemudian dibakar. Lalu, yang terjadi muncul suara kretek, kretek, kretek. Bunyi yang khas tersebut, pada akhirnya menjadikan sebuah nama, Kretek. Bahkan, tidak disangka, sesaknya berkurang dan dadanya membaik.

Ada penemu, tentu saja ada orang yang memomulerkannya. Mereka adalah sepasang kekasih yang bernama Nitisemito dan Nasilah. Kretek inilah yang kemudian dikenal ke banyak penikmat kretek hingga saat ini.

Namun begitu, perjuangan memomulerkan kretek secara tidak sengaja. Pada mulanya, Nitisemito adalah pejuang bisnis. Dia berbisnis mulai dari pakaian hingga produksi minyak kelapa. Bisnisnya yang mengalami pasang surut, pada akhirnya dia jatuh bangkrut.

Oleh karena tidak ingin nelangsa dan terus berjuang, ia menjadi kusir dokar sembari berjualan tembakau. Di fase itulah, dia dekat dengan Nasilah yang kelak menjadi belahan hatinya.

Penjualan tembakau pun diserahkan kepada Nasilah. Dia mengelolanya menjadi sebuah warung. Tak disangka, hasil olahannya banyak disukai pelanggan. Saat itu, dia mencampurkan tembakau dan cengkeh yang kemudian dimasukkan ke kulit jagung yang sudah kering. Lalu, diikat dengan tali benang.

Lambat laun, dari mulut ke mulut, bulan ke bulan, bisnisnya merangkak naik. Mereka sepakat untuk memberikan sebuah nama pada produk olahannya. Kodok Nguntal Ulo. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, karena jika didengar, tidak enak di telinga, namanya diubah. Tjap Bal Tiga. Dari nama itulah Nitisemito kian populer.

Kepopulerannya berbuah manis. Produknya disukai dan akhirnya dia membuat sebuah pabrik pada tahun 1914. Di atas lahan enam hektar, pabrik yang diimpikan selama sepuluh tahun berbisnis tembakau mampu menyerap banyak pekerja. Saat itu, sekitar 15 ribu pekerja yang ikut Nitisemito. Dengan jumlah pekerja sebanyak itu, per hari pabriknya mampu memproduksi sepuluh juta batang.

Nama Nitisemito dianggap orang sebagai orang yang mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi. Sebab, dia mempekerjakan seluruhnya orang Indonesia. Dia tampaknya khawatir apabila orang Indonesia tetap mengekor pada orang-orang Belanda.

Sayangnya, memasuki tahun 1930an, bisnisnya mulai redup. Bahkan, hampir padam ketika Jepang masuk ke Indonesia yang bertepatan dengan Perang Dunia II. Pada akhirnya, bisnisnya benar-benar padam pada tahun 1950an.

Tjap Bal Tiga dan Nitisemito adalah potret sejarah kretek Nusantara. Dari sejarah, kini kretek telah banyak memberikan sumbangsih tidak hanya lanskap ekonomi, melainkan sosial budaya Indonesia.

Komentar Anda