perokok

Tobacco Distancing ala Kak Seto Diskriminasi Perokok

Awalnya saya kira istilah Tobacco Distancing yang diperkenalkan seorang pemerhati anak kenamaan Kak Seto adalah upaya mengentikan aktivitas join merokok. Ternyata saya salah, saya lupa kalau Kak Seto itu antirokok, cara berpikirnya antirokok. Satu-satunya tujuan utama berpikir ala antirokok tentu saja adalah berhenti merokok.

Begini, ketika istilah itu muncul di media, saya benar-benar mengira itu adalah jangan merokok joinan, jangan berbagi rokok dan korek, jangan beli ketengan, dan segala upaya menghindari penyebaran virus corona oleh perokok. Nyatanya, istilah itu muncul hanya untuk memperhalus bahasa berhenti merokok. Ujung-ujungnya ya cara berpikir pemerhati anak sejak saya anak-anak itu sama saja dengan walikota Depok.

Okelah kalau memang ada peneliti yang menyatakan perokok lebih rentan terpapar Covid-19. Persoalan paru-paru rusak karena rokok bla bla bla bla, mengurangi imun bla bla bla bla, semua itu sudah sesuai dengan acuan kampanye negatif tentang rokok kok. Jadi ngga heran sih ketika Corona begini malah pada bahas ayo berhenti merokok.

Persoalannya adalah, sejauh ini, korban meninggal akibat Corona justru hadir paling banyak dari golongan orang yang tidak merokok. Ada sebuah data yang dikeluarkan kelompok antirokok menyebut bahwa 25% korban Corona adalah perokok. Dengan logika sederhana, artinya orang yang tidak merokok meninggal akibat corona ada di angka 75%. Waw, jauh lebih banyak ya ternyata.

Jika kita mengacu pada data orang positif Covid-19, orang-orang yang terkespos data dirinya sejauh saya ketahui bukan perokok. Di tataran elit misal menteri atau walikota, ada Menteri Perhubungan Budi Karya dan sang Walikota (antirokok) Bogor Bima Arya yang positif Corona. Di kalangan pesohor lain, ada artis Andrea Dian yang juga positif corona. Sekadar mengingatkan, mereka semua yang namanya disebut ini tidak ada yang merokok ya.

Artinya, ajakan Tobacco Distancing oleh Kak Seto agar menghindari corona jelas terbantahkan. Lah menteri perokok macam Basuki Hadimuljono tidak kena Corona. Data penelitian juga mengatakan orang yang tidak merokok lebih banyak terkena Corona. Kalau sudah begini, masih mau menyalahkan rokok dalam urusan Corona? Ya kali masih berani.

Komentar Anda
Category : Artikel
Tags :