rokok murah

Virus Corona di Pabrik Rokok Sampoerna

Beberapa hari terakhir ramai berita tentang kehadiran virus corona di pabrik rokok Sampoerna. Menurut berita, 2 buruh pabrik rokok tersebut meninggal karena positif corona. Sementara, ada 69 buruh lainnya yang juga dinyatakan positif dan saat ini sedang menjalani perawatan di rumah sakit.

Ada berbagai macam dugaan yang hadir terkait peristiwa tersebut. Walikota Surabaya Tri Rismaharini mengungkap telah meminta manajemen Sampoerna menutup pabrik rokok sejak 26 April. Tak hanya itu, manajemen juga telah diminta mengisolasi para karyawannya sejak saat itu juga. Namun, tindakan tegas sepertinya baru benar-benar diambil pada beberapa waktu setelahnya.

Hal ini kemudian jelas menjadi preseden buruk di tengah pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Surabaya. Seperti telah kita ketahui sebelumnya, pemberlakuan PSBB di berbagai kota di Indonesia belum berjalan efektif hingga hari ini. Salah satu contoh paling nyata adalah masih beroperasinya pabrik-pabrik di masa PSBB.

Di Surabaya, Sampoerna akhirnya menutup pabrik rokok di Rungkut 2 yang menjadi cluster baru penyebaran Corona di Surabaya. Di Tangerang, PT EDS Manufacturing Indonesia meliburkan karyawannya setelah ada dua yang meninggal dengan status pasien dalam pengawasan. Artinya, ada banyak kasus pabrik/perusahaan menjadi cluster penyebaran karena tetap memaksa beroperasi.

Hal macam begini harusnya menjadi bahan pertimbangan pemerintah untuk benar-benar memaksa pabrik/perusahaan untuk tutup terlebih dahulu. Apalagi, izin operasi untuk pabrik/perusahaan begitu mudah didapat. Hanya bermodal mengajukan izin ke Kementerian Perindustrian, izin bisa segera didapat.

Tanpa adanya upaya serius dari pemerintah, baik daerah atau pusat, sepertinya penanganan corona bakal memakan waktu yang benar-benar lama. Apalagi, saat ini cluster-cluster baru penyebaran telah muncul lantaran keterlambatan negara menutup akses mudik. Hal ini menjadi keterlambatan yang fatal mengingat jumlah kenaikan pasien corona di Indonesia terus meningkat tajam.

Kalau sudah begini, negara harus benar-benar mengevaluasi total pemberlakuan PSBB. Mengingat di tengah PSBB masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa tanpa mengurangi keramaian di tempat umum. Dan yang paling utama, tentu saja, masih ada begitu banyaknya pabrik yang beroperasi dengan kehadiran ribuan pekerja di setiap gedungnya.

Sudah, berhentikan semua operasonal pabrik/perusahaan yang masih beroperasi. Jika masih membandel, tutup paksa saja. Berlakukan ini pada semua sektor usaha, termasuk pada pabrik rokok yang masih bandel operasi di masa pandemi.

Komentar Anda
Category : Artikel
Tags :